Latest Post




SELEPAS PERIHKU

                        Karya  : Fi'liyah MANU Putri Buntet Pesantren
 
Mentari masih tertawan awan kelabu pagi ini. Hangatnya, belum menyapa pagiku. Buliran air hujan mulai menyentuh pori bumi. Tetesannya mengiringi sendu nada tangisku. Bukanlah cinta atau kehidupan yang menjadi alasan kesedihanku. Tetapi, jalan hidup yang sedang kulalui.
Adapun rindu yang menderaku, bukanlah kekasih yang ingin kujumpai. Tapi masa-masa di saat aku menjadi siswa yang selalu menggali potensi diri. Mereka pembimbingku (guru) selalu meyakinkanku tuk dapat menjadi siswi terbaik di SMA unggulan yang ada di kota kelahiranku. Ternyata, harapan mereka dan impianku tak sejalan dengan garis hidupku.
Kini, aku berada di sebuah rumah mewah yang menjadikanku seorang pembantu. Terdengar sedikit hina. Tapi ku mencoba tuk tidak menghiraukan opini mereka tentang pekerjaanku agar tetap terjaga ketenangan hatiku.
“SYAFA”
Nama yang selalu mereka sebut saat menginginkan sesuatu, baik untuk sekedar mengambilkan tisu atau mengangkut barang-barang yang baru mereka beli. Namaku tak pernah terdengar lirih saat merka memanggilku. Tak ada maaf jika kesalahan tidak sengaja ku lakukan.
Aku tak pernah mengingkan hal ini dan tempat yang ku tinggali kini. Namun, rumahku bukanlah pelindungku. Karena tak lagi ada satupun sanak saudara. Ibu meninggalkanku saat hari pertama aku menjalani Ujian Nasional (UN) di Madrasah Tsanawiyah. Ia pergi menyusul ayahku untuk selamanya. Hanya tinggal ayah tiriku, dialah yang memasukkanku ke dalam istana neraka ini. Istana orang-orang yang hanya mencantumkan agamanya dalam kartu identitasnya, bukan dalam hatinya. Dan mereka tak pernah mengingat Tuhannya.
“Syafa! Ambilkan segelas bir dalam kulkas!”
Lantang suara itu membuyarkan lamunanku. Ku usap air mata dan segera memenuhi perintahnya.
“Maaf, Nyonya... seharunya Nyonya sudah tidak boleh minum air keras lagi. Itu akan semakin merusak paru-paru Nyonya, dan Nyonya akan semakin menumpuk dosa.”
“Brengsek kamu! Sok sekali ikut urusanku.”
Lalu ia berlalu meninggalkanku menuju kolam renang di sisi rumah.
Hari ini adalah hari ke-90-ku bekerja. Sejak sebulan pertama, aku minta untuk berhenti. Namun, Nyonya telah membayar besar pada ayah tiriku untuk menjadikanku sebagai pembantu. Dan ia tak mau dirugikan.
“Aku menahan gajimu selama 1 tahun,” ucapan itulah yang menjadi pertimbanganku saat ku hendak meninggalkan rumah ini.
Saat semua jalan menjadi buntu, ku putuskan untuk pergi secara diam-diam. Hanya berbekal uang 20.000 yang ku ambil di atas meja. Aku segera pergi tinggalkan rumah itu. Meski, ku tak tahu arah dan tujuanku.
Uang 20.000 hanya mengantarkanku sampai ke terminal Kota Subang. Aku berjalan kaki menuju desaku. Di setiap langkah, aku terus berpikir. Ayahku tak akan membiarkanku menginjakkan kaki di rumah peninggalan ibuku. Dia mengharuskanku bekerja, tak boleh meneruskan pendidikan.
Kemudian sekitar 2 km mendekati rumahku, aku bertemu dengan guru bahasa Inggrisku ketika sekolah di Madrasah Tsanawiyah.
“Syafa’ah!” wajahnya terkejut.
“Pak!”
Segera ku menyalaminya. Tak terasa air mata membasahi pipi. Terasa bahagia berjumpa dengan guru yang selalu menjadi sahabatku.
“Kamu sudah pulang dari Jakarta?”
Hanya senggukan yang mampu kujadikan jawaban.
“Aku tak ingin kembali ke rumah itu. Ayahku telah menjualku pada mereka untuk dijadikan budak,” ku curahkan kepedihanku padanya.
“Astaghfirullah…! Sungguh, Syafa’ah?”
“Ya. Orang itu sangat kejam, tak pernah terjaga ucapan dan sikapnya.”
“Ya sudah, kau tenangkan dahulu pikiranmu. Tinggallah sementara dengan Bapak untuk sementara. Nanti kita cari solusinya bersama-sama.”
Dengan tubuh lusuh dan layu aku berjalan beriringan dengan Pak Hasan. Itulah namanya. Sesampainya di rumah beliau, aku diberimakan dan minum untuk memenuhi panggilan perutku yang keroncongan.
“Begini saja, Syafa’ah, Bapak tawarkan kepadamu untuk memilih apakah sekolah di SMA Taruna, sekolah impianmu, dengan syarat menjadi penjaga koperasi sekolah di setiap jam istrirahat, atau tinggal di pesantren menuntut ilmu agama tetapi di Madrasah Aliyah Swasta. Kamu pikirkan malam ini dan harus menemukan jawabannya esok hari.”
Keesokan harinya aku telah memutuskan satu pilihanku tuk tinggal di pesantren. Mungkin selama ini aku terlalu jauh dengan Tuhanku dan kesempatan ini akan ku gunakan untuk memperbaiki diri.
“Tapi, Syafa’ah, Bapak tak sanggup jika harus membiayaimu keduanya (biaya pesantren dan sekolah). Jika kamu memilih pondok pesantren maka kamu harus menjadi khodim kyai. Maka Bapak harus memayar bulanannya cukup membiayai sekolah dan kebutuhan sehari-harimu.”
“Apa itu semacam pelayan.”
“Mungkin. Tapi tepatnya adalah abdi kyai.”
“Ya. Aku siap dan aku pasti bisa melewatinya. Karena aku akan hidup bersama orang-orang shaleh dan baik.”
Seminggu kemudian, Pak Hasan mengantarkanku menemui sang kyai di sana. Pak Hasan menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami. Entah apa saja yang mereka bicarakan, tapi mayoritas kata yang diucapkan berakhiran ‘O’.
“Monggo! Monggo! Kulo terimo.”
Mungkin itu ucapan sang kyai yang menandakan ia menerimaku. Mulai sejak hari itu aku memasuki dunia baruku. Dunia pesantren. Aku memilih pesantren di antara alasannya adalah untuk menjauh dari ayah tiriku.
Esok harinya, pengurus pondok mengantarkanku ke sekolah aliyah dan aku terkejut tak ada satu pun siswa berada di dalamnya. Hanya ratusan siswi yang bersekolah di madrasah yang baru kupijaki ini. Tapi itu akan lebih baik, karena akan terhindar dari konflik percintaan.
Aku merasa nyaman dengan dunia baruku. Meski setiap hari harus memasak untuk pada santri, tapi aku bangga berada di lingkungan pesantren ini. Karena banyak ilmu syariat yang dapat kupelajari. Tak hanya itu di sekolah baruku ada kompetisi Bahasa Inggris yang hadiahnya adalah dikirimkan ke kampung Bahasa Inggris di Pare, Jawa Timur. Aku bersemangat dan berusaha menjadi pemenangnya agar aku dapat menapaki tangga menuju cita-citaku. Dan aku yakin Pak Hasan akan merasa bangga.
“Selamat, Syafa’ah, bulan depan kamu akan kami kirim ke Pare untuk memperdalam Bahasa Inggris selama 2 bulan. Semua biaya hidup dan kebutuhanmu sekolah yang akan menanggung.”
Kepala sekolah menyampaikan berita gembira ini kepada seluruh siswi Madrasah Aliyah Al-Mujibiyyah.
Akhirnya aku berhasil memenangkan kompetisi ini. Segera ku kabari pak Hasan dan tak lupa aku menyampaikan kabar ini pula pada Kyai-ku. Keduanya sangat bangga.
Hingga tak terasa 2 bulan berlalu. Setelah kembali dari Pare aku kembali menjalani kehidupan di pondok pesantren. Sampai tak tersadari 3 tahun berlalu. Dan aku harus meninggalkan pesantrenkuu.
Kini aku berada di Universitas Islam Negeri (UIN) Jogjakarta. Dan semua ini karena aku lulus bidik misi. Di waktu liburku, ku manfaatkan untuk mengajar privat Bahasa Inggris. Bahkan aku bisa membalas kebaikan Pak Hasan meskipun mungkin tak seberapa, setiap bulan aku menstransfer ke rekeningnya. Karena saat ini beliau sudah pensiun sebagai PNS.
“INILAH AKHIR YANG INDAH”
Sempat ku impikan satu kalimat indah terucap dari lihdaku dan hari ini aku merasakan indahnya.
Terimakasih Ya Rabb, rencana-Mu begitu indah. Meski kehidupan Jogjakarta sedikit keras tapi dengan keimanan dan ketauhidan yang ku mantapkan, aku tetap bisa menjaga diri dari segala perbuatan buruk yang disebkan oleh pergaulan bebas. Dan sungguh Rasul-Mu telah mengingatkanku dan umat lainnya untuk menuntut ilmu untuk menggapai kebahagiaan duniawi dan ukhrowi.
من أراد الدنيا فعليه بالعلم ومن أراد الأخرة فعليه بالعلم ومن أرادهما فعليه بالعلم



KHAYALAN FATAMORGANA
OLEH : MUTMAINNAH ELT MOENVHY
MANU PUTRI BPC
           
            Aku tertegun dalam sunyi, memandangi langit yang tak lagi gelap, matahari hampir beranjak dari tempat singgah sananya. Aku pandangi kekosongan tanpa adanya kekuatan untuk mengubah. Dulu dan kini memang berbeda tapi aku tak mau kembali seperti dulu, menjadi seseorang yang tak mempunyai cita-cita dan impian dan yang hanya memikirkan kesenangan dan kepuasan batin semata. Yaaahhhh…. itulah aku yang dulu, tapi untuk saat ini aku tak mau menjadi seperti itu lagi.
            ariiiiinnnn…..” teriak Imah memecah lamunan.
            iya sebentar aku lagi pake kerudung” kataku sambil bercermin.
            ayo kita berangkat nanti telay\t” gerutu imah kesal
            iya ayo kita berangkat” sambil menggandeng imah.
           
            Aku dan Imah sudah berteman lama sekali, tepatnya tiga tahun yang lalu setelah (Alm) Ayah menyuruhku tinggal di pesantren untuk memperdalam ilmu agama dan lebih lebih tepatnya aku suruh bertobat. Dan kini aku tinggal beberapa bulan lagi tinggal disini, aku rasa aku sangat bodoh dalam ilmu agama dan aku ingin mencari lebih banyak lagi disini. hmmm mungkin dengan menjadi abdi dalem di pondok ku ini, aku ingin sekali bisa memanfaatkan tenagaku ini untuk guruku, tapi apakah mungkin ibu mengizinkan aku, terlebih aku harus membantu ibuku mengelola usaha ayah dan mengurusi ke-2 adikku. Tapi entahlah tunggu saja saatnya.
            rin gimana, kamu jadi mau mencalonkan diri menjadi abdi dalem di pondok kita ?”. tanya Imah.
            bahasamu masih seperti anggota DPR saja” tawaku
            hahahaha….. ya terus apa dong? Tapi aku serius rin, gimana nasibmu setelah lulus nanti”
            “aku gak tau mah, itu memang niatku dari awal aku ingin sekali menjadi abdi dalem  di pondok kita, terlebih aku merasa ilmu agama ku belum sempurna” jelasku
            “manusia memang tidak ada yang merassa puas rin, bila sudah berhasil pasti dia akan mencari cara lagi untuk mencapai puncak”.
            “aku bukan merasa tidak puas mah, tapi memang itu yang sebenarnya, kamu tahu aku menyelami tentang islam baru disini, ya walaupun dari aku terlahirpun aku sudah beragama islam dan orang tua ku selalu mengajariku mengaji, tapi disinilah aku baru benar-benar paham tentang islam” ucapku.
            “baiklah, aku mengerti, tapi aku yakin nilaimu itu pasti bisa untuk masih di perguruan tinggi” hibur imah
            Aku memang ingin sekali kuliah imah, tapi inilah pilihan aku tidak hanya ingin berbekal sarjana saja tanpa adanya bekal agama yang kuat dalam diriku. Ilmu agama yang ada dalam diriku ini belum tentu bisa terus mengukuhkan aku, aku takut aku terpeleset bahkan aku terperosok dalam jurang yang dalam dan aku tidak bisa bangkit lagi
            arin ada info beasiswa gratis nih, kamu tertarik engga? Aku yakin kamu bisa lulus dibeasiswa ini” ujar Mahmud.
            ah Mahmud bisa aja kamu, belum tentu jugalah” ujarku
            tapi aku yakin rin kamu lulus” tegasnya
            hayoooo kalian lagi apa berduaan” imah dating mengagetkan
            hahahahah emang kenapa kamu cemburu ya” ledek ku
            iiihhh apa sih engga tau” alas an Imah dengan wajah merah
            kebetulan nih ada imah juga, kamu mau ikut engga “ tawar Mahmud
            emang banyak engga yang ikut disini”  tanya imah
            ya lumayan sih” ada cung Ghifar juga
            cung Ghifar ikut?” sambil menyikut aku
            “tapi aku harus minta izin sama ibuku dulu”
            baiklah lagi pula, ujian diadakan bulan april mendatang” ucap Mahmud
            Seperti biasanya suasana dipondok mulai ramai ketika pulang sekolah, dikamarku sesak dipenuhi 15 orang penghuni, sangat pengap. Aku keluar dan duduk diantara bebatuan memandangi aliran sungai kecil di belakang pondok, aku tertegun ketika aku mengingat nama “Ghifar” ahhh darahku mengalir deras saat aku mendengar dan mengingat kata itu…..
            Lelaki itu dari awal sampai hari ini aku kenal, aku sangat mengaguminya, lelaki yang hamper sempurna itu….
            Ahhh….. sudahlah aku harus focus dengan mimpiku itu, mimpi yang ingin ku jemput siap menunggu di depan mata.
           
            Senja sore menemaniku berkhayal, melukis semua mimpiku dalam barisan awan yang siap membentuk satu tulisan mimpiku, tapi awan-awan itu pun pasti tidak cukup untuk menuliskan semua mimpi. Beruntung hari ini aku libur dari segala aktifitas yang menyangkut tentang diriku dan memang aku harus mempersiapkan untuk UN mendatang, bagku UN adalah salah satu batu loncatan yang harus ku pijak untuk sampai keatas. Jadi mungkin inilah waktunya aku menjemput semua mimpiku dalam warna jingga yang membentang. Hingga ahirnya langit hitam menenggelamkan warnaa itu dan langit tak ubahnya menjadi malam yang elok dan sepi ditemanin suara jangkrik yang memekik. Hingga akhirnya aku terlelap dalam sunyi malam yang siap menemaniku untuk menyambut esok dengan mentari yang bersinar.
            Kriiiiiiinggggg…..
            Bunyi alarm dihandphone membangunkanku tepat pada pukul 02.30, aku terbangun denmgan mata yang masih mengantuk, tapi aku harus bangun, aku ingin mengadukan rasaku kepada Rabbku, aku berdiri sedikit demi sedikit, lalu bangkit dan berjalan memasuki kamar mandi untuk menyegarkan pikiran ku dan mengambil aire wudhu. Ku bentangkan sajadah disamping ranjang tidurku, bersujud penuh harap memohon dengan sangat kepada Tuhanku dengan semua rasa yang ada pada diriku.
            Sejenak aku diam, menanti pagi dengan desiran angin di tempatku ini, suara kabut burung menyambut keelokan sang pagi \, aku bersiap dengan ujian yang hadap kali ini……
            aku siap, aku benar-benar siap” ucapku sambil memakai jilbab sambil menatap cermin.
            arinn……”teriak imah mengagetkanku  iyaaaaa bawel. Kenapa sih kamu selalu mengagetkan ku” gerutu ku lagi.
            heheheheeheh iya deh piiisss, abisnya kamu ditungguin lama banget dari tadi” sambil sambil menyodorkan jarinya, yaudah deh ayo kita berangkat

Suasana sekolah sangat sepi, ya memang hari ini adalan UN jadi hanya  kelas XII saja yang berangkat, aku akan berjuang untuk memetik hasil yang kutanam selama 3 tahun bersekolah. “ Semoga hasil yang kudapat bisa menghantarkan ku untuk bisa merebut apa yang aku impikan” ucapku dalam hati sambil mengerjakan soal yang diujuikan.

Hujan siang ini sangat deras rintikannya begitu lebat setia menemaniku dengan asyiknya dan Imah  yang sedang duduk dengan asyiknya memandang daun berjatuhan karena air hujan.
mah aku ingin pulang kerumah besok”
“emang mau apa???” jawab imah masih dalam lamunannya
aku bingung setelah kelulusan nanti mau kemana, aku harus membicarakan ini dengan ibuku”
“ya sudahlah terserah kamu saja, tapi ada syaratnya” menatapku
apa”
“Aku harus ikut” dengan ekspresi tanpa dosa
 “iiiihhhhhhhhh mau ngapain, ngerepotin aja
:arin aku juga mauketemu sama bude ku tau”
Iya deh, tapiiii awas saja kalau sampai mabuk di jalan”
“ yeeehhh emang aku orang ndeso apa?”
Kami berdua terbahak dibawah hujan yang turun sangat dereas, tapi aku yakin hujan itu masih kalah dengan suara tawa kita yang cetar, mebahana dan menggelegar….

Barisan pohon berhias disetiap jalan, puluhan orang yang ada dalam mobil, memandang keluar jendela, tapi apakah yang mereka fikirkan, dan entahlah aku tidak tahu…
wah ini yah Jakarta “ tanya imah dengan senyum mengembang di pipinya.
iya mah, udah ah cepet nanti keburu sore”  pintaku sambil memegang tangan imah
Perjalanan kami belum selesai kami harus menempuh jarak yang lebih jauh lagi untuk sampai kerumah dan angkot adalah alterbativenya.
ASSALAMUALAIKUM…..” ucapku sembari mengetuk pintu
wa’alaikumsalam” jawab gadis kecil membuka pintu
mba arinnnn”
Aku berjalan memasuki rumah di ikuti arin yang berjalan dibelakang
arin, imah “ ibu menyapa penuh rindu
Budeeee” sambil mencium tangan ibu
kenapa engga bilang-bilang mau kesini”
“ga tau tuh arin”
“ iya bu aku sengaja ingin member kejutan dan adik-adikku tercinta”
“ya sudah madilah dulu lalu makan sebentar lagi malam”
“ iya ibuuuuuuu” sambil  beranjak dari kursi.


Pagi dirumahku memang sangat berbeda dengan pagi yang biasa ku sapa, di pondok setiap pagi, kicauan burung yang biasa kudengar setiap pagi kini berganti dengan suara mobil yang berlalu lalang atau suara anak tetanggaku yang nangis karena tak diberi uang.
bu……” panggilku sambil membantu memotong bawang
iya riinnn”
“aku ingin kuliah”
“kamu ini perempuan, nanti juga adanya di dapur”
“ tapi bu apakah semua perempuan ada di dapur”
“ya memang sudah seharusnya begitu kan”
Aku hanya bisa diam dan mulai geram dengan ucapan ibu, hancur htiku dan hancur pula semua impianku. Dan aku putuskan untuk pulang kepondok yang diiringi dengan rasa pilu yang mendalam, mingkin kini awan dilangit tak lagi bisa kutulis lagi dalam  fatamorgana, semua hancur dan tak bisa kembali,.

Dua bulan berlalu, dan aku dapat berkhayal tersenyum tentang impianku setelah mendengar penjelasanku akhirnya ibu mengerti dengan semua yang ku inginkan.
ariiinnn… aku lulusss” teriak imah seperti biasa
alhamdulilllah aku jug amah, kita harus bersyukur dengan ini semua”
“sepertinya bakal ada yang jadi adi dalem baru nih di pondok”
“iyyyaaaa dong, calon guru bahasa arab nih “ ucapku berlagak sombong
selamat ya rin,” tiba-tiba Ghifar dating dengan Mahmud.
iya terima kasih” jawabku salah tingkah dan pergi menjauhi mereka.
Aku memandang langit dengan rona bening yang tergurat di awan, mungkin ini kisah akhirku, aku senang aku bisa melewatinya, hingga kini aku bisa memetiknya.
Ya inilah akhir khayalanku yang akhirnya menjadi kenyataan, aku bisa memiliki semua khayalanku dan mewujudkan impian (Alm) Ayah untuk menjadi sarjana ekonomi dan pastinya aku akan terus ber khayal untuk meukis semua mimpiku
SELAMAT BERKHAYAL ^_^




 Tuhan Jujurlah, Bahwa Ayahpun merindukanku
 

Semilir angin terbangkan rindu,
Membawa serta sebuah perasaan teramat syahdu,
Dalam suasana haru biru didalam ruang rindu,
Hadirlah sosok baru yang selama ini selalu ditunggu.

“eaaaak.. eaaaaakkk… eaaaaakkkkk” Jerit tangis seorang bayi perempuan.
“hole.. beta punya anak su keluar” Ujar sang Ayah
(terj:hore.. anak saya sudah lahir)

   Suatu hari pukul 02:00 pagi, lahirlah seorang bayi perempuan mungil, ditengah keluarga besar  bermarga “mitak” di daerah Flores, Kupang, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.
    Bayi perempuan ini di anugerahi sebuah nama yang diturunkan dari nenek moyang keluarga besar tersebut yakni “Sabina Dangut Della Mitak” yang diganti menjadi; “Sabina Della Putri Mitak” untuk membedakan.
    Lahir ditengah keluarga yang beragama katholik dan masih memegang teguh adat istiadat, membuat saina begitu mencintai kampung halamannya.
   
   Hingga suatu ketika…
               Di suatu sore yang mencekam..

    Ayah memutuskan untuk memboyong keluarga kecil kami merantau ke kota metropolitan ‘Jakarta’, dengan harapan Tuhan akan melirik usaha kami untuk memperbaiki perekonomian keluarga, karena kata orang ‘Jakarta adalah tempat yang mudah untuk mengais rezeki’.

       Padahal Realitanya.
 
   Jakarta bukan tempat seperti itu ,
Buktinya Ayah sangat sulit mendapatkan pekerjaan,
Tapi, walaupun begitu.. Ayah tak pernah mengeluh,
Di tengah terik matahari yang menyengat, Ayah dan anak perempuannya yang manja itu tetap bersemangat mencari lowongan pekerjaan.

”Yah, kita mau kemana lagi?daritadi jalan terus.” Tanya Sabina siang itu.

“kata teman Ayah, 200 M lagi kita akan sampai di jalan yang banyak terdapat bengkel motor, siapa tahu bengkel itu butuh montir. Sabina lelah yaa?”

“Enggak Yah!” Ucap Sabina tegas

“kalo Ayah gendong, Mau?” Tawar sang Ayah

“emmm..mauu.. hehe”

    Ayah pun berlutut sembari menawarkan punggungnya kepada Sabina, dengan wajah ceria Sabina memeluk leher ayahnya, lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan, satu per satu bengkel diketuk, namun tak kunjung juga ada yang membuka lowongan pekerjaan, padahal senja telah tiba, burung pun tengan berterbangan menuju sarangnya, wajah Ayah Nampak kelelahan, tapi senyumannya tak pernah pudar, Ayah bak Senja yang tak berjingga, seperti apapun beliau coba untuk tersenyum, kecemasan nya tetap tak bias tertutupi begitu saja, Ayah begitu membutuhkan pekerjaan.
   Ayah kelihatan sangat khawatir akan kelangsungan hidup keluarga, karena ini bukan kali pertama Ayah pulang sebagai pengangguran, sudah sekita 18 hari ini Ayah berusaha kesana - kemari berkeliling mencari pekerjaan, cadangan uang pun semakin tipis, dan Sabina harus segera di daftarkan ke sekolah dasar.
   Di sisi lain, Ayah dan Sabina mengisi hari-hari dengan belajar, banyak pelajaran yang ia dapat dari sang Ayah, mulai dari bermusik, belajar menghitung, berbahasa, sampai belajar mengenal berbagai macam karakter masyarakat.
   Sabina tak punya televisi dirumah nya, terkadang saat Ayah sedang tak dirumah, Sabina main kerumah tetangga, untuk menonton televise, tapi keakraban itu tak berlangsung lama, karena Sabina dijauhi temannya, dengan alasan orangtua mereka tak mengizinkan mereka bermain dengan anak yang beda agama, kata nya bermain dengan sesame orang islam itu  lebih baik.
  Sabina menceritakan kejadian itu kepada Ayahnya, sambil menangis tersedu-sedu, Sabina merasa sedih mengapa tak ada yang mau berteman dengannya, lalu sang Ayah menasihati;
“Sabina, Jangan Bersedih.. Sabina berdoa yaa sama Tuhan, semoga suatu saat mereka mau berteman dengan Sabina.
kecilnya Sekarang, mungkin Tuhan masih ingin berteman akrab denganmu, dan menjauhkan mereka, agar Tuhan menjadi satu-satunya untukmu, nak.” Petuah sang Ayah sembari mengusap airmata putri yang rapuh.


2 tahun kemudian
   Ayah bekerja menjadi seorang montir di bengkel motor, setiap pulang sekolah Sabina bergegas menyusul Ayahnya ke bengkel, menunggu sore, menghabiskan waktu dengan belajar, duduk manis dibengkel sambil se sekali melihat Ayah yang kepanasan di bakar terik matahari.

Tahun demi Tahun berlalu..
Keadaaan perekonomian keluarga tak semakin membaik,
Ayah dan ibu semakin sering bertengkar,
Ibu selalu menuntut Ayah bekerja lebih keras lagi, untuk memenuhi segala kebutuhan yang semakin mencekik.
Padahal Ayah sudah berusaha semaksimal mungkin, siangnya ia gunakan untuk bekerja keras, dan malam harinya ia habiskan untuk berlutut di depan salib, menangis dan melantunkan segala doa dan harapannya.

Namun malapetaka terjadi..
Saat Sabina duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar.
Keadaan ekonomi yang semakin terpuruk, membuat Ibu semakin sering marah-marah dan membentak Ayah, Sabina adalah saksi nyata pertengkaran hebat mereka setiap malam, Hal ini, lama-kelamaan membuat rumahtangga Ayah dan Ibu berantakan, hingga akhirnya berujung perceraian.
  Ayah lalu memutuskan untuk pulang ke flores, meniti kehidupan baru sendirian, meninggalkan putrid kecilnya yang malang ‘Sabina Della Putri Mitak’
  Ayah adalah seorang montir yang handal, mampu memperbaiki banyak kendaraan yang rusak, tapi tak bisa memperbaiki rumahtangnnya sendiri.

   Sabina melanjutkan hidupnya dengan tidak baik-baik saja, bagaimana mungkin ia tak merindukan Ayahnya, kehilangan harta paling berharga dalam hidupnya membuat ia merasakan sakit yang tak berujung, Sabina terkapar menahan sedih, hatinya yang bersih masih sangat membutuhkan kasih saying sang ayah tercinta,
Sabina bagai lebah yang kehilangan sarang,
Tak ada tujuan kemana harus pulang,
Hilang arah tanpa kebahagiaan.

“Tuhan , dimana Ayah berada?
Sabina pengen ketemu Ayah,
Sabina pengen ke rumah Tuhan sama Ayah lagi,
Sabina mau hidup susah sama Ayah,
Makan sedikit sama Ayah,
Sabina mau menghabiskan sore ditempat kerja Ayah lagi,
Tuhan.. Sabina ingat waktu Ayah tak punya uang untuk merayakan hari ulangtahunku, dan Ayah hanya mampu membeli sebutir telur ayam kampung, yang kita rebus lalu makan berdua,
Tuhan.. Sabina kangen di peluk, digendong, dan tidur disamping Ayah,
Tuhan, balikin Ayah kerumah,
Ibu gapernah jawab Ayah dimana,
Sabina butuh Ayah.
Tuhan, jujurlah.. Ayahpun merindukanku,kan?”
Rintih gadis kecil itu setiap malam.





 5 tahun Sepeninggal Ayahnya.

Tuhanku, jadikan aku alat penebar kedamaian di bumi,
Bantu aku menanamkan cinta di mana pun ada dengki,
Toleransi dimana pun ada permusuhan,
Keyakinan dimana pun tumbuh keputusasaan,
Cahaya dimana pun kegelapan berkuasa,
Dan sukacita dimana pun hati di baluri duka lara.
Tuhanku, bantu aku memahami keadaan orang lain sebelum mereka memahami keadaan ku, juga mencintai mereka sebelum mereka mencintaiku.
Sebab, seseorang hendaknya tidak meminta sesuatu sampai ia memberikannya, dan tidak meminta maaf pada orang lain sebelum ia memaafkan mereka.
Mereka pun tidak akan merasakan hidup yang abadi sebelum merasakan kematian.

   Sabina yang besar dan terdidik diantara mayoritas umat muslim pun akhirnya terketuk pintu hatinya untuk masuk islam, di awali hatinya yang bergetar saat mendengar suara muadzin yang mengumandangkan adzan dengan sangat merdu, Sabina lalu di islamkan oleh ustad di masjid al -  azhar Jakarta dengan dituntun mengucapkan dua kalimat syahadat, dimana Sabina sangat lancer melafalkan nya karena di hatinya selalu terngiang suara adzan, ustad pun memberikan sedikit sosialisasi tentang islam.
   Di sekolah, Sabina sangat antusias memperdalam belajar agama yang dibimbing langsung oleh guru agama islam di smp nya, Sabina belajar cara berwudhu, bacaan dan gerakan sholat, serta cara membaca Al-Qur’an yang baik dan benar.
   Sabina tumbuh menjadi remaja cantik dan cerdas dan selalu semangat dalam belajar, sikap pantang menyerah ini tentu karena didikan Ayahya sedari kecil, Sabina tak pernah menghiraukan lelahnya menuntut ‘ilmu, ia selalu rajin memahami dan menghapal banyak pelajaran.

Dan kepada Tuhan nya yang baru ia kenal, Sabina tetap bertanya;
‘Ayahpun, merindukanku kan ya Rabb?’



Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.